Rabu, 29 Juli 2009

So happy


I hope its just not a dream. But dream comes true.
I have so much plan to do, but in this 'limited' situation, being with you, just knowing that you'll be here with me, is all I ever needed. Perhaps if someday we got a better chance, we will make a big plan about that, right?

Well... okay.. Its 16 more to 'the day'...
Yippiyy....

I cant even barely wait for that moment...
:)

Kamis, 16 Juli 2009

Persimpangan

Ketika aku berdiri di persimpangan jalan ini, aku tahu hidupku tidaklah mudah. Semakin banyak masalah dan tantangan yang akan aku hadapi. Aku tahu jalanku yang rumit dan berliku tidaklah menjadi lurus dengan pilihanku itu. Tapi aku menutup mata dan telinga terhadap suara-suara hatiku, mempertahankan keinginanku yang hanya terbawa emosi tak berpikir jauh serta akibat yang harus aku tanggung sampai kapan aku tak tahu.

Selama waktu itu aku jalani hidupku seperti mendaki bukit, terkadang turun lembah, bahkan menyelami lautan dalam, naik lagi melayang di udara, terhempas lagi ke bumi, begitu terus hingga rasanya badanku akan rontok. Tak lama lagi. Mungkin.

Kini aku sudah terjatuh begitu dalam, oleh pilihan yang menghantarkanku ditengah-tengah area yang tak lagi kukenal. Aku tersesat oleh pilihanku sendiri. Seperti benang kusut yang tak bisa dikembalikan lagi Aku mau keluar dari sini. Aku sudah cukup lelah dan penat dengan berada di tempat yang bukan seharusnya aku berada.

Aku berdiri sekarang, beratus-ratus km jauhnya dari persimpangan awal tadi. Dan aku tak tahu jalan kembali.

Selasa, 14 Juli 2009

Rest

Another such boring day... :(

Lately, I often feel bored with my day, my life, my....

I need some rest..

Really, I do..

Hope that plan will come true..

Senin, 13 Juli 2009

Buku, tak bisa hidup tanpanya

This is one of my sister's writing. I always like her writing. GO SISTA!!! :P


Buku harus djadikan kapak untuk mencairkan lautan beku dalam diri kita

- Franz Kafka, Penulis Austria -

Mel Gibson dalam Brave Heart boleh saja berujar ‘Life without freedome is not life at all’. Tapi, buku mania punya tagline-nya sendiri, ‘Life without books is not life at all’.

Tak akan ada imajinasi dan insipirasi. Tak ada kepuasan usai menuntaskan membaca buku. Tak ada diskusi seru dan tidak ada tempat pelarian dari rutinitas. Bisa dibayangkan betapa ‘hampa’nya hidup tanpa buku?

Buat sebagian orang hobi membaca identik dengan kutu buku. Namun sekarang zaman sudah berubah. Seiring dengan kian banyaknya varian buku yang beredar membaca bukan hobi jadul lagi.

Bisa dikatakan membaca sudah menjadi aktifitas penunjang prestise dan acuan untuk dianggap mengikuti perkembangan life style. Mengapa tidak? Seseorang bisa dicap ‘tidak gaul’ bila belum menamatkan Harry Potter. Tak tahu tetralogi-nya Andrea Hirata, kemana aja loe? Yah…begitulah kira-kira komentar yang diperoleh bila mengaku belum menyentuh buku-buku tadi.

Sah saja bila orang menganggap buku sekadar prestisenya atau pelengkap pergaulan. Namun sejatinya buku memberikan lebih dari itu. Sebuah kepuasan, menghilangkan kejenuhan, sumber inspirasi, wadah menjadi orang lain lewat tokoh dalam cerita dan melebarkan sayap imajinasi dengan membebaskan pembaca mempersepsi cerita berdasarkan daya khayalnya.

Pilih ‘Menu’ mu

Bila diibaratkan, buku tak ubahnya adalah makanan. Tak selamanya nasi goreng nikmat disantap setiap saat atau pizza misalnya. Kadang kala di waktu-waktu tertentu ubi goreng sudah cukup. Bahkan ada masa dimana emping lebih memberikan kepuasan dibanding dengan sandwich.

Demikian juga dengan buku. Bagi dia yang mengaku pecinta novel thriller mustahil saja, bila setiap saat dihabiskannya melalap novel-novel ala Stephen King. Pasti ada moment-moment tertentu dimana koleksi Hilman Hariwijaya-lah yang dibutuhkan. Dan di waktu yang lain lagi dia akan memilih ‘Laskar Pelangi' atau mungkin karya-karyanya Nicholas Sparks dan Danielle Steel. Bahkan jangan-jangan Harlequin pun termasuk dalam daftar ’menu’nya.

Fiksi ke Fakta

Bagian tubuhnya yang masih kering merinding, setengahnya lagi terbenam dalam air sedingin es. Angin kejam mengibarkan rambutnya.. Harry mulai gemetar keras. Dia menghindari memandang tempat duduk penonton. Tawa mereka semakin keras, dan terdengar teriakan-teriakan mencemooh anak-anak Slytherin…

Kemudian mendadak saja Harry merasa seakan ada bantal tak kelihatan yang ditekapkan ke mulut dan hidungnya. Dia berusaha bernapas, tetapi kepalanya jadi pusing. Paru-parunya kosong, dan dia mendadak merasa kedua sisi lehernya sakit seperti tertusuk.

Dia menekan tangan ke sekeliling lehernya dan teraba olehnya dua torehan di bawah telinganya menganga di udara yang dingin…Dia punya insang. Tanpa berpikir lagi, dia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal –dia terjun ke air.

Tegukan pertama air danau yang sedingin es terasa bagaikan napas kehidupan. Kepalanya berhenti berputar. Dia meneguk air lagi dan air itu dengan lancar keluar lagi melewati insangnya, mengirim udara kembali ke otaknya. Dia menjulurkan tangan di depannya dan menatapnya. Kedua tangannya tampak hijau dan pucat di bawah air, dan keduanya berselaput.

Dia berputar dan ganti memandang kakinya. Telapak kakinya telah memanjang dan jari-jarinya juga berselaput. Rasa-rasanya sekarang dia punya sirip.

Apa yang dicari orang dari novel fiksi fantasi? Mungkin salah satunya adalah unsur tak biasa, petualangan yang mustahil terjadi di dunia nyata. Seperti yang dialami Harry Potter tatkala bermetamorfosis menjadi manusia setengah ikan dalam ‘Harry Potter and The Goblet of Fire’. Buku Harry Potter memang penuh petualangan ajaib. Wajar saja bila orang rela menukar waktu tidurnya demi menghabiskan cerita si bocah penyihir tersebut. Kehidupan penyihir yang serba bisa, serba mencengangkan sekaligus juga serba menakutkan inilah yang dinantikan pembaca.

Bila Harry Potter membuai dengan fantasinya, beberapa buku justru menampilkan kisah nyata yang menghanyutkan pembaca. Banyak buku sekarang yang berkisah mengenai pengalaman pribadi penulisnya.. Beberapa sekadar omong kosong, guyonan namun sebagian lagi benar-benar menyentuh hati dan memberikan hikmah.

Seperti buku karangan Dave Pelzer, ‘A Child Called It’, ’The Lost Boy’ dan ’A Man Named Dave’. Novel-novel ini berisi rangkaian kisah yang dialami sang penulis. Dimana ia bergelut dengan penyiksaan mental dan fisik yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri.

Pada akhirnya memang dengan perjuangan, semangat dan cinta Dave Pelzer dapat bertahan. Bahkan ia mendapat penghargaan Teen Outstanding Young Americans tahun 1993 dan menulis buku yang menginspirasi banyak orang. Dave berhasil keluar dari lilitan masalahnya dan menyublim dari nothing menjadi something.

Bukankah kita seringkali merasa tidak sanggup dan ingin berhenti ketika masalah datang? Namun lewat membaca kisah-kisah hidup para ’pejuang’ seperti Dave Pelzer tentunya akan menghidupkan kembali semangat yang layu dan menciptakan harapan baru bukan?

Demikianlah, jika fiksi menciptakan ruang untuk melebarkan sayap imajinasi maka pengalaman-pengalaman nyata penuh motivasi seperti yang dituliskan Dave Pelzer memberi tempat bagi pembaca untuk belajar dan memaknai hidup.

Ringan ke Berat

Banyak sindiran yang mengatakan novel-novel teenlit yang sedang marak bermunculan seperti Dea Lova dan kawan-kawannya atau yang lagi hangat-hangatnya sekarang blog dijadikan novel, buku harian plus pengalaman-pengalaman lucu seseorang yang dikumpulkan dan disusun menjadi buku adalah novel ’kacangan’.

Toh, meskipun kacang itu garing, ada yang melempem dan tidak mengenyangkan namun tetap saja enak dikunyah saat-saat santai. Demikian jugalah dengan novel teenlit. Orang boleh saja menyebutnya novel ’kacangan’ namun tiada dapat dipungkiri bahasanya yang ringan, sederhana memudahkan orang untuk mencernanya.

Apalagi kalau sedang buntu. Jangan ditambah dengan buku-buku karangan Dan Brown, John Sandford dan Jonathan Lethem yang membutuhkan konsentrasi penuh untuk dimengerti. Alangkah lebih baik bila pilihan dijatuhkan pada ‘Kambing Jantan’, ’Cado-cado‘ alias ’Catatan Dodol Calon Dokter’ yang notabene baik segi jalan cerita maupun penuturannya dapat meringankan pikiran dan menurunkan kadar mumet.

Namun tak selamanya tertawa dapat membuat rileks. Justru dengan adanya proses ‘berpikir’ malah menciptakan ketenangan. Tak percaya? Kalau sudah begini saatnya menaikkan grade dengan membaca bacaan ‘berat’.

Seperti koleksinya si masterpiece John Grisham. Mulai dari ‘The Rain Maker’, ‘The Client’, ‘The Street Lawyer’, ‘Pelican Brief’ sampai ‘The Firm’. Bahasanya memang sedikit kaku, penuh dengan istilah-istilah hukum dan soal-menyoal masalah perdata hingga pidana..

Awalnya memang membingungkan dan butuh konsentrasi menerjemahkan maksud ceritanya. Apalagi buat pembaca yang ‘buta’ akan hukum. Namun entah mengapa ada gairah tersendiri di tengah usaha menjalin makna setiap kalimatnya.

Mencoba memahami apa yang diutarakan para tokoh. Terkadang juga sekejap menghapal istilah-istilah yang mungkin saja berguna suatu saat atau sekadar menambah perbendaharaan.

Diam sejenak. Lalu mulai membaca ulang kala tak mengerti. Lantas selanjutnya, tersungging senyum dan rona kepuasan sontak terpancar begitu halaman terakhir dari novel usai dituntaskan. Mungkin inilah yang disebut dengan passion...

Melayang Bersama Jodi Picoult

Tidak peduli kehidupan macam apa yang ku alami pasti kau ada di ujungnya

-Eric dalam Vanishing Acts by Jodi Picoult-

Cinta bukanlah suatu kontrak, dan bukan suatu akhir yang bahagia. Cinta adalah papan tulis di bawah kapur tulis, tanah darimana gedung-gedung muncul, dan oksigen dalam udara

–Vanishing Acts by Jodi Picoult-

Aku mencintaimu sudah sejak lama, sehingga aku tak ingat awalnya

-Cop dalam Plain Truth by Jodi Picoult-

Kau boleh tidak membutuhkanku, Tuan Putri, tapi brengsek, aku membutuhkan kau!

-Jake dalam The First Time by Joy Fielding-

Maka dengan mata membundar terdengarlah seruan, “So sweet…” usai menuntaskan novel-novel pagutan Jodi Picoult, Joy Fielding dan novel lain yang sama-sama mengusung drama-romantis.

Last but not the least, apa yang dicari orang dari buku-buku drama-romantis ? Perasaan melankolis, kalimat-kalimat romantis yang membuat melayang dan ah…Belum lagi ungkapan-ungkapan sarat makna yang terselip di tiap halamannya. Dan kesemua ini hanya bisa diungkapkan dengan satu kata yakni kepuasan.

Can’t Live Without It

Percaya tidak, hobi membuat segala sesuatu menjadi mudah. Di waktu senggang, membaca. Menunggu teman di cafĂ©, tarik saja satu novel dari dalam tas dan mulailah membaca. Saat suntuk, membaca. Butuh refreshing, membaca.. Penat, lelah, ingin lari dari rutinitas, buka saja buku dan lagi-lagi membaca. Bagi ‘penggila’nya, buku tak ubahnya semacam ‘candu’. Sebuah kebutuhan untuk merasakan euforia yang diinginkan. Jadi, bisa bayangkan bila hidup tanpa buku? Truly, can’t live without it…..

Jumat, 10 Juli 2009

Are we better than the other people?


Dia ga berhak menghakimi orang lain. Apa dia lebih baik dari M? Coba liat diri sendiri dulu, baru ngeliat orang.. Kalo uda lebih baik, baru boleh protes..
Memang kita lebih mudah untuk melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Sedikit saja ada cacat kecil yang dilakukan teman kita, pasti langsung kita sorot tanpa peduli ada apa dibalik semuanya itu. Padahal semua orang bisa buat kesalahan. Kecil atau besar. Bahkan kita sendiri pun sering berbuat kesalahan yang mungkin saja lebih parah dari orang lain.
Tapi seringkali kita tidak sadar dan bahkan menganggap perbuatan kita itu bukan sesuatu yang salah. Mungkin sudah menjadi bakat alami manusia untuk selalu menyalahkan orang lain dan bukannya melihat pada dirinya sendiri.

Well, apapun itu, just try not to judge a book by its cover.. Because u dont know what will you find inside them, right?

Hey, we aren't better than other people! :)

Selasa, 07 Juli 2009

In d middle of nowhere..

My friends just sent me sms. She said that u have right to decide your life. That I suppose to know wat was best and wat wasnt.

The problem is I can not decide. I can not take any decision right now, with so many thoughts in my mind..

Let the music take mu mind..
Just release and I'll be fine...

Akh, I wish you could take me now.. to your place..right by your side..
Just cruise with me baby..

Kamis, 02 Juli 2009

Beugh....Ga konsisten ko..!

Heran. Dulu bisa ketawa/i, ngobrol-ngobrol seru, kasi nasehat segalam macam... Eh, sekarang sms nanya kabar juga ga mau.. Terus tadi ngirim sms juga ga mantaff gitu.. Bisa ga sih caranya gentleman jangan kaya anak-anak?? Paling ga masi punya lidah kan buat ngomong..
Lagian ga jelas juga alasannya jadi bersikap lain gitu, ga ada asap ga ada angin.. langsung aja dieman ga da juntrungannya ...
Plis deeeegghhh... Katanya ga suka cewe yang sikapnya kekanakan... (kata sape??) Dia sendirinya bersikap lebih-lebih dari anak TK..beuuugh....!!!! Capeee dehhhh..... 10 Jariiii....

Dasar ga konsisten ko....! (keluar deh logat medannya...)

Aku mau menyumpahimu...tapi ya sudahlah... rugi banget aku...
Watever!!!!!!!!!!!

Rabu, 01 Juli 2009

Begitulah Cinta


...

engkaulah intan, permata hatiku

engkaulah yang pertama dan engkau yangterakhir selalu

engkaulah raja, mahkota cintaku

lebih dari luas lautan batas cintaku untukmu kasih

pabila ku tiada

bawa daku bersama


seindahnya dunia fana, dan sedamainya surga

tetap bagai neraka tanpamu, begitulah cinta

secerianya sinar mentari, dan cahya rembulan

tetap dunia gelap tanpamu, begitulah .. cinta

engkaulah raja u..u.. kau permaisuriku

engkaulah yang pertama dan engkau yang terakhir

selalu ....


(Aku baru dapet lagunya kemarin.. n i do really love this one...hehe.. Thanks buat Harvey M. and Sheila M. yang udah nyanyi'n lagu ini... )