Ada hal-hal yang selalu mengikat, sehingga membuat kita tak mampu melakukan hal yang berarti dalam hidup ini. Masa lalu dan kebencian. Mengikatkan diri pada masa lalu, berarti kau tidak bisa menerima kejadian apapun yang terjadi di masa depan. Sementara kebencian, perlahan-lahan kau sedang membunuh dirimu sendiri.
Ketika Wina seorang gadis muda harus menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berakhir dalam hitungan tahun bahkan mungkin bulan, perasaan memberontak dan marah mengisi hari-hari terakhirnya. Kegalauan kala harus meninggalkan kekasih tercinta dan juga pergulatan batinnya dalam memaafkan ibu kandungnya yang setelah ia divonis sakit baru mencoba memperbaiki hubungan diantara mereka yang sudah kritis.
Apakah kebencian memang memberikan jalan keluar yang terbaik? Ataukah sebaliknya hanya memperumit persoalan hati?
Terkadang melalui kepahitan manusia baru bisa belajar untuk memaafkan. Namun pada akhirnya semua tetap berpulang kembali lagi pada pribadinya masing-masing, apakah memilih untuk tetap membenci atau melupakan.
Rabu, 11 November 2009
Senin, 28 September 2009
Untitled 2
“Tania!” Andre memanggil Tania dari bawah tangga. Ia terpaksa berhenti menunggu lelaki yang adalah pacarnya itu menghampirinya. Aku harus senyum, senyum, pikirnya seraya menarik ujung bibirnya keatas, sehingga terkesan sangat terpaksa. Sudah tiga hari ia tak membalas telpon Andre. Ia merasa sedikit bosan dengan hubungan mereka. Andre baik, bahkan terlalu baik. Justru kebaikannya itulah yang membuat Tania merasa bersalah. Andre terlalu sempurna buatnya.
“Ta, hp kamu kok ga bisa dihubungin beberapa hari ini, kamu kemana aja, ga ngasi kabar ke aku?” semburnya setelah berdiri didepan Tania.
Akh, alasan apa lagi yang harus kukarang, pikir Tania.
“Oh, itu ibuku agak kurang sehat. Aku sengaja ga ke kampus nemanin ibu dirumah,” jawab Tania singkat sambil melanjutkan jalan. Andre mengikutinya.
“Dan hp kamu? Kenapa kamu ga pernah telpon aku,” tanya Andre tak puas dengan jawaban Tania. Tania memutar bola matanya. Ga bakal berhenti sebelum dia puas, batinnya.
“Ndre, aku ga mau bikin kamu kuatir, ibu cuma perlu check up aja kok. Ntar siang aku mau bawa ibu ke rumah sakit,” tukas Tania ingin segera menyudahi percakapan ini.
“Ya udah, nanti aku antarin ya, Ta,” kata Andre lagi.
“Ndre, aku..”
“Dan aku ga pengen denger kata nggak usah,” lanjutnya sambil memegang lengan Tania.
Inilah yang paling menyebalkan darinya. Selalu memaksa, keluh Tania. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Tania mengangguk sambil berlalu menuju ruang kuliahnya.
“Ntar aku keluar jam 11. Aku tunggu di tempat parkir, Ta,” Andre setengah berteriak pada Tania.
Tania menghilang dalam lokal yang hampir kosong. Ia mengambil tempat di dua barisan paling belakang. Sendiri. Tak punya banyak teman dikampus ini. Apalagi setelah sibuk merawat ibunya. Hubungan dengan teman-temannya dulu semakin renggang. Apalagi dengan Lana, orang yang dulu disebutnya sahabat. Tania jadi tahu, tak ada teman yang sejati didunia ini. Apalagi sahabat.
Entah kenapa Andre masih betah berlama-lama dengannya. Tania jarang punya waktu berduaan dengan Andre. Karena waktunya banyak dihabiskan dirumah atau dirumah sakit. Andre menjadi nomor kesekian dalam hidupnya. Hanya masalah waktu saja yang akan menyadarkan Andre untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan ia berharap Andre segera sadar. Tania tak butuh laki-laki saat ini. Tania hanya butuh ibunya.
Satu-satu bangku kosong terisi. Hingga akhirnya dosen masuk ke lokal dan memulai kuliahnya tentang sesuatu yang kedengarannya seperti manajemen dan tetek bengek-nya. Hah, aku benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan dosen berkepala botak ini. Mungkin usianya akhir 40-an. Pikir Tania malah memusatkan perhatian pada dosennya dan bukan kuliahnya. Bajunya ga cocok dengan celananya. Kacamatanya kegedean. Ukh, baru 10 menit aku udah bosan banget.. pikirnya lagi.
Getar dari hp-nya mengagetkannya. Sms. Andre. Apalagi nih? Batinnya.
“Ta, jangan ngelamun, dengerin dosennya tuh, hehe. Love u,” bunyi sms dari Andre. Tania tersenyum. Andre yang baik dan manis. Entah kenapa aku tak bisa mencintainya. Tania memejamkan mata dan mengingat pertemuan pertamanya dengan Andre.
“Nih, hapus ingus kamu tuh, jelek banget keliatannya.” Sebuah tangan mengulurkan selembar tisu. Tania mendongak dan melihat wajah yang tak asing lagi. Andre. Andre sang bintang basket. Ya, dia Andre, bintang di klub basket kampusnya.
Tania cepat-cepat mengambil tisu dari tangan Andre dan menghapus ingus dan airmata dari wajahnya. Tania sedang berada di atap gedung kampusnya. Sejak mendengar kabar tentang ibunya yang sakit, dia sering melarikan diri dan merenung ditempat ini. Tak punya teman yang punya waktu untuk mendengarnya, Tak punya teman yang peduli padanya. Hanya ada sahabat yang menggoreskan luka yang tak akan pernah pulih.
Tania belajar bercerita pada angin. Meski tak bisa bicara, paling tidak ia mendengar tangisan Tania dan menyampaikannya pada sosok ayahnya.
Andre duduk tak jauh disamping Tania. Tania hanya diam sambil berusaha meredam airmatanya yang tak berhenti mengalir. Andre mengenakan kacamata yang sepertinya janggal dipakai oleh seorang bintang basket. Dijarinya terselip sebatang rokok yang tinggal setengah. Mereka sama-sama diam. Hanya mendengar desau angin.
Hingga akhirnya, “Kalo boleh tau kenapa kamu nangis,” suara berat itu mengagetkan Tania. Tania masih berusaha menahan isak tangisnya, berpikir haruskah dijawab pertanyaan laki-laki ini? Atau dia pergi saja sekarang? Namun ada sesuatu yang menahan langkah kakinya pergi saat itu.
Dan ia malah menjawab pertanyaan Andre dengan balik bertanya, “Kamu, ngapain kesini?”
Andre mematikan rokok yang kini sudah habis dihisapnya. Lalu menoleh pada Tania, “Lho, emang ga boleh ya kesini, apa tempat ini punya pribadi?” tanyanya lagi sambil tersenyum. Manis. Kacamatanya dilepasnya. Semakin menonjolkan wajahnya yang jauh dari buruk.
Tania berdiri mengibaskan celana jeansnya, “Ga ada yang ngelarang kok. Aku cuma heran aja, ngapain bintang besar kaya kamu sendirian datang ketempat yang jauh dari fans-fans kamu,” sahutku sambil bersandar pada pagar pembatas.
Dia ikut berdiri. “Jadi kamu kenal sama aku ya?” katanya sambil terus memasang senyum manisnya. Hah, bagus Tania, sekarang kau uda buat dia makin besar kepala, Tania menyesal kenapa dia harus bicara pada makhluk manis ini. Dan sekarang tambah lagi kau bilang dia manis? Ukh, emang dia manis kok. Tapi jangan terpancing, Tania, kata hatinya.
“Kenal sih ga, cuma siapa sih yang ga tau bintang basket dikampus ini?”, jawabnya berharap lelaki ini segera berlalu dari tempat ini.
“Mungkin, seorang cewek yang lagi nangis sendirian di atap gedung kampus?” katanya hampir seperti rayuan.
Sadar dirinya ketahuan nangis, Tania merasa malu, “Emang nangis ga boleh ya, itu kan hak asasi manusia,” tukas Tania sambil membuang tisu pemberian Andre.
“Ga ada yang ngelarang kok, kamu nangis aja lagi, aku masi punya tisu nih,” katanya mulai menyebalkan.
Tania memandangnya dan berkata, “Bukan urusanmu, kan.”
“Hei, aku ga bermaksud..” Tania menyambar tasnya dan melangkah menuju pintu tangga.
“Hei, bentar, nama kamu siapa?” Teriakannya tak terdengar lagi oleh Tania.
“Saya harap anda semua mempelajari bab 3-4 untuk pokok bahasan minggu depan. Dan yang saya maksud adalah bener-benar mempelajarinya,” suara melengking dosen itu mengakhiri kuliah pagi ini.
Tania yakin tak ada yang mendengar teriakan dosen itu. Ia merasa lega, langsung memasukkan diktat yang tak pernah dibukanya sedari tadi. Dia sedang melangkah keluar ruang kuliah, ketika tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
“Ta, kok udah lama ga keliatan?” Suara sahabatnya, lebih tepatnya mantan sahabatnya tak asing lagi ditelinganya. Tania berbalik dan berusaha untuk tersenyum.
“Oh, kamu aja kali yang sibuk ga ngeliat aku. Aku dikampus terus kok,” jawab Tania tak acuh. Lana balas tersenyum.
“Kamu dikampus terus tapi ga pernah ngumpul paper-paper kamu, Ta?” lanjut Lana sambil mengikuti langkah Tania. Sok peduli amat sih ni orang, pikir Tania kesal.
“Aku bakal ngumpulin itu semua nanti,” sahut Tania seraya mempercepat langkahnya.
“Tapi kita udah mau semesteran, Ta. Gimana kamu mau nyelesain paper kamu yang menggunung sementara..”
Dia berhenti. Lalu, “Eh, Ibu kamu apa kabar, Ta?” tanyanya tiba-tiba. Tania berhenti dan menatap Lana.
“Heh, masi ingat rupanya kamu sama ibu aku. Kenapa tiba-tiba nanya? Itu bukan urusan kamu kan,” Tania mulai gusar. Apa pedulinya? Buat apa dia tanya ibu sekarang? Sialan! Tania mengumpat dalam hati. Lana terdiam sejenak. Sementara Tania mempercepat langkahnya.
“Ta, kamu masi marah sama aku ya. Please, aku harus gimana, Ta supaya kamu mau maafin aku?” Lana berusaha mengejar Tania.
“Lan, kenapa kamu harus minta maaf? Emang kamu salah apaan sih, Lan,” Tania tak berusaha untuk tak bersikap sarkastik.
“Ta, please, jangan kaya gini sama aku,” Lana berusaha meraih tangan Tania, yang langsung dikibaskan oleh Tania.
“Don’t you even dare, Lan. Buat aku kamu udah ga ada,” bentak Tania seraya berlalu meninggalkan Lana yang tercekat.
“Ta, hp kamu kok ga bisa dihubungin beberapa hari ini, kamu kemana aja, ga ngasi kabar ke aku?” semburnya setelah berdiri didepan Tania.
Akh, alasan apa lagi yang harus kukarang, pikir Tania.
“Oh, itu ibuku agak kurang sehat. Aku sengaja ga ke kampus nemanin ibu dirumah,” jawab Tania singkat sambil melanjutkan jalan. Andre mengikutinya.
“Dan hp kamu? Kenapa kamu ga pernah telpon aku,” tanya Andre tak puas dengan jawaban Tania. Tania memutar bola matanya. Ga bakal berhenti sebelum dia puas, batinnya.
“Ndre, aku ga mau bikin kamu kuatir, ibu cuma perlu check up aja kok. Ntar siang aku mau bawa ibu ke rumah sakit,” tukas Tania ingin segera menyudahi percakapan ini.
“Ya udah, nanti aku antarin ya, Ta,” kata Andre lagi.
“Ndre, aku..”
“Dan aku ga pengen denger kata nggak usah,” lanjutnya sambil memegang lengan Tania.
Inilah yang paling menyebalkan darinya. Selalu memaksa, keluh Tania. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Tania mengangguk sambil berlalu menuju ruang kuliahnya.
“Ntar aku keluar jam 11. Aku tunggu di tempat parkir, Ta,” Andre setengah berteriak pada Tania.
Tania menghilang dalam lokal yang hampir kosong. Ia mengambil tempat di dua barisan paling belakang. Sendiri. Tak punya banyak teman dikampus ini. Apalagi setelah sibuk merawat ibunya. Hubungan dengan teman-temannya dulu semakin renggang. Apalagi dengan Lana, orang yang dulu disebutnya sahabat. Tania jadi tahu, tak ada teman yang sejati didunia ini. Apalagi sahabat.
Entah kenapa Andre masih betah berlama-lama dengannya. Tania jarang punya waktu berduaan dengan Andre. Karena waktunya banyak dihabiskan dirumah atau dirumah sakit. Andre menjadi nomor kesekian dalam hidupnya. Hanya masalah waktu saja yang akan menyadarkan Andre untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan ia berharap Andre segera sadar. Tania tak butuh laki-laki saat ini. Tania hanya butuh ibunya.
Satu-satu bangku kosong terisi. Hingga akhirnya dosen masuk ke lokal dan memulai kuliahnya tentang sesuatu yang kedengarannya seperti manajemen dan tetek bengek-nya. Hah, aku benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan dosen berkepala botak ini. Mungkin usianya akhir 40-an. Pikir Tania malah memusatkan perhatian pada dosennya dan bukan kuliahnya. Bajunya ga cocok dengan celananya. Kacamatanya kegedean. Ukh, baru 10 menit aku udah bosan banget.. pikirnya lagi.
Getar dari hp-nya mengagetkannya. Sms. Andre. Apalagi nih? Batinnya.
“Ta, jangan ngelamun, dengerin dosennya tuh, hehe. Love u,” bunyi sms dari Andre. Tania tersenyum. Andre yang baik dan manis. Entah kenapa aku tak bisa mencintainya. Tania memejamkan mata dan mengingat pertemuan pertamanya dengan Andre.
“Nih, hapus ingus kamu tuh, jelek banget keliatannya.” Sebuah tangan mengulurkan selembar tisu. Tania mendongak dan melihat wajah yang tak asing lagi. Andre. Andre sang bintang basket. Ya, dia Andre, bintang di klub basket kampusnya.
Tania cepat-cepat mengambil tisu dari tangan Andre dan menghapus ingus dan airmata dari wajahnya. Tania sedang berada di atap gedung kampusnya. Sejak mendengar kabar tentang ibunya yang sakit, dia sering melarikan diri dan merenung ditempat ini. Tak punya teman yang punya waktu untuk mendengarnya, Tak punya teman yang peduli padanya. Hanya ada sahabat yang menggoreskan luka yang tak akan pernah pulih.
Tania belajar bercerita pada angin. Meski tak bisa bicara, paling tidak ia mendengar tangisan Tania dan menyampaikannya pada sosok ayahnya.
Andre duduk tak jauh disamping Tania. Tania hanya diam sambil berusaha meredam airmatanya yang tak berhenti mengalir. Andre mengenakan kacamata yang sepertinya janggal dipakai oleh seorang bintang basket. Dijarinya terselip sebatang rokok yang tinggal setengah. Mereka sama-sama diam. Hanya mendengar desau angin.
Hingga akhirnya, “Kalo boleh tau kenapa kamu nangis,” suara berat itu mengagetkan Tania. Tania masih berusaha menahan isak tangisnya, berpikir haruskah dijawab pertanyaan laki-laki ini? Atau dia pergi saja sekarang? Namun ada sesuatu yang menahan langkah kakinya pergi saat itu.
Dan ia malah menjawab pertanyaan Andre dengan balik bertanya, “Kamu, ngapain kesini?”
Andre mematikan rokok yang kini sudah habis dihisapnya. Lalu menoleh pada Tania, “Lho, emang ga boleh ya kesini, apa tempat ini punya pribadi?” tanyanya lagi sambil tersenyum. Manis. Kacamatanya dilepasnya. Semakin menonjolkan wajahnya yang jauh dari buruk.
Tania berdiri mengibaskan celana jeansnya, “Ga ada yang ngelarang kok. Aku cuma heran aja, ngapain bintang besar kaya kamu sendirian datang ketempat yang jauh dari fans-fans kamu,” sahutku sambil bersandar pada pagar pembatas.
Dia ikut berdiri. “Jadi kamu kenal sama aku ya?” katanya sambil terus memasang senyum manisnya. Hah, bagus Tania, sekarang kau uda buat dia makin besar kepala, Tania menyesal kenapa dia harus bicara pada makhluk manis ini. Dan sekarang tambah lagi kau bilang dia manis? Ukh, emang dia manis kok. Tapi jangan terpancing, Tania, kata hatinya.
“Kenal sih ga, cuma siapa sih yang ga tau bintang basket dikampus ini?”, jawabnya berharap lelaki ini segera berlalu dari tempat ini.
“Mungkin, seorang cewek yang lagi nangis sendirian di atap gedung kampus?” katanya hampir seperti rayuan.
Sadar dirinya ketahuan nangis, Tania merasa malu, “Emang nangis ga boleh ya, itu kan hak asasi manusia,” tukas Tania sambil membuang tisu pemberian Andre.
“Ga ada yang ngelarang kok, kamu nangis aja lagi, aku masi punya tisu nih,” katanya mulai menyebalkan.
Tania memandangnya dan berkata, “Bukan urusanmu, kan.”
“Hei, aku ga bermaksud..” Tania menyambar tasnya dan melangkah menuju pintu tangga.
“Hei, bentar, nama kamu siapa?” Teriakannya tak terdengar lagi oleh Tania.
“Saya harap anda semua mempelajari bab 3-4 untuk pokok bahasan minggu depan. Dan yang saya maksud adalah bener-benar mempelajarinya,” suara melengking dosen itu mengakhiri kuliah pagi ini.
Tania yakin tak ada yang mendengar teriakan dosen itu. Ia merasa lega, langsung memasukkan diktat yang tak pernah dibukanya sedari tadi. Dia sedang melangkah keluar ruang kuliah, ketika tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
“Ta, kok udah lama ga keliatan?” Suara sahabatnya, lebih tepatnya mantan sahabatnya tak asing lagi ditelinganya. Tania berbalik dan berusaha untuk tersenyum.
“Oh, kamu aja kali yang sibuk ga ngeliat aku. Aku dikampus terus kok,” jawab Tania tak acuh. Lana balas tersenyum.
“Kamu dikampus terus tapi ga pernah ngumpul paper-paper kamu, Ta?” lanjut Lana sambil mengikuti langkah Tania. Sok peduli amat sih ni orang, pikir Tania kesal.
“Aku bakal ngumpulin itu semua nanti,” sahut Tania seraya mempercepat langkahnya.
“Tapi kita udah mau semesteran, Ta. Gimana kamu mau nyelesain paper kamu yang menggunung sementara..”
Dia berhenti. Lalu, “Eh, Ibu kamu apa kabar, Ta?” tanyanya tiba-tiba. Tania berhenti dan menatap Lana.
“Heh, masi ingat rupanya kamu sama ibu aku. Kenapa tiba-tiba nanya? Itu bukan urusan kamu kan,” Tania mulai gusar. Apa pedulinya? Buat apa dia tanya ibu sekarang? Sialan! Tania mengumpat dalam hati. Lana terdiam sejenak. Sementara Tania mempercepat langkahnya.
“Ta, kamu masi marah sama aku ya. Please, aku harus gimana, Ta supaya kamu mau maafin aku?” Lana berusaha mengejar Tania.
“Lan, kenapa kamu harus minta maaf? Emang kamu salah apaan sih, Lan,” Tania tak berusaha untuk tak bersikap sarkastik.
“Ta, please, jangan kaya gini sama aku,” Lana berusaha meraih tangan Tania, yang langsung dikibaskan oleh Tania.
“Don’t you even dare, Lan. Buat aku kamu udah ga ada,” bentak Tania seraya berlalu meninggalkan Lana yang tercekat.
Rabu, 09 September 2009
Kirsten Stewart-nya Twilight

Sapa sih yang g kenal ama Kirsten Stewart?
O.. banyak juga ternyata.. hehe.. Klo ga kenal berarti kalian ga pernah or belum pernah or ga suka nonton film Twilight yang diadopsi dari novel best seller karya Stephanie Meyer dengan bintang utamanya Robert Pattinson n Kirsten Stewart.
Hmm, akhir - akhir ini suka ngikutin perkembangan film lanjutannya, New Moon (yang belum tau kapan ya bisa ditonton di bisokop Indonesia?) Punya cita-cita juga ngoleksi Novel saganya. Hehe..
Tapi bukan filmnya yang mo aku omongin disini, bukan juga si ganteng Pattinson yang sekarang jadi pujaan tiap cewe ABG, tapi aku lagi ngefans banget ama pemeran utama cewe-nya yang lagi naik daun, si Kristen Stewart.
Hmm, kenapa?
Selain karena wajah uniknya yang ga bisa dibilang cantik sih, tapi enak banget untuk dilihat, lebih menarik tanpa riasan berlebih karena daya tariknya tuh di mata dan bentuk wajahnya yang alami. Kirsten sendiri pun sepertinya jarang menggunakan asesoris berlebihan dan polesan make-up yang norak, kesederhanaan dan alami yang biasa ia tampilkan dalam kesehariannya.
Selain itu aktingnya dalam film pertama Twilight ini lumayan bagus. Gaya dan gerak tubuhnya ekspresif, aktingnya alami dan lagi-lagi kesederhanaan penampilannya justru meninggalkan kesan mendalam.
Pokoknya salut buat Kirsten. Keren banget! Semoga dia ga cuma jadi artis musiman, tapi bertahan terus sampe matang...!
Hmm, jadi pengen niru gaya-nya Kirsten.. hehe..
(*ngarep mode on) ^^.
Kamis, 03 September 2009
Bagaimana kita bisa memilih antara Tuhan dan orang yang kita cintai?

Bagaimana kita bisa memilih antara Tuhan dan orang yang kita cintai?
Kenapa aku ulangi lagi judul tersebut diatas? Karena ternyata pertanyaan ini sangat mudah sekaligus sangat susah untuk dipahami.
Sebagian orang akan menjawab, "Ya Tuhan dong.. dosa loh, kalo lebih cinta manusia daripada Tuhan.."
Lebih sedikit orang akan mengerutkan kening, sambil memiringkan kepala, berpikir sejenak, lalu dengan pelan menjawab, "Ga salah tuh..? Keyakinan dan perasaan mana bisa dipisahin.. Gila kali ya.."
Itu hasil survei dari beberapa teman yang aku coba ajukan pertanyaan gampang-gampang-susah atau susah-susah-gampang ini.
Hmm, Dia atau dia.
Hmm, dia atau Dia.
Kalau menurut aku sendiri, aku lebih setuju pada mereka yang memilih untuk 'tidak memilih',nya dengan kata lain mereka yang tidak bisa / tidak mau memisahkan antara Tuhan dan orang yang dikasihi.
Aku setuju bahwa keyakinan dan masalah perasaan adalah dua hal yang berbeda tapi berjalan dalam rel yang sama. Ketika kau memiliki perasaan dalam tak terbendung yang membuatmu sadar bahwa kau tak bisa hidup tanpa kehadiran dia dalam hidupmu, bahwa kau mampu melakukan hal tergila apapun demi hanya untuk menyenangkan dia. Itu disebut mencintai. Disisi lain kau juga memiliki satu kerinduan dalam hatimu untuk memuja sesuatu yang jauh lebih besar dari seluruh alam semesta ini. Dan kau tahu, sadar serta meyakininya.
Mereka adalah dua prinsip berbeda tapi berputar dalam satu kali rotasi. Kita tidak bisa memisahkan antara yang satu dengan yang lain. Perasaan dan keyakinan. Cinta dan Tuhan.
Aku ambil contoh lagi seperti ini.
Tuhan menciptakan manusia. Lalu Ia cipta pula cinta.
Tuhan, manusia, cinta.
Manusia berada pada deretan tengah. Jadi manusia diciptakan untuk Tuhan dan untuk cinta. Tidak dibatasi, tidak dihalangi dan tidak dibebani.
Hanya bagaimana cara menjalani hubungan antara kita dan Tuhan atau kita dan cinta, hal itulah yang terkadang menjadi alasan bagi kita kita untuk memberi ruang dan jarak antara kedua hal itu.
Bagiku, aku tak bisa menentukan harus memilih mana antara keyakinan dan perasaanku. Karena aku tahu itu semua bersumber kepada satu Kuasa. Aku tak bisa membayangkan harus menjalani hidup dengan dia tanpa DIA, atau hidup dengan DIA tanpa dia.
Bukan pilihan yang harus diambil, bukan juga pertanyaan rumit yang harus dipahami. Hanya bagian dalam kehidupanku yang harus aku terima dan lakoni dengan apa adanya, tanpa embel-embel 'pilihan'. Lagipula memilih untuk 'tak memilih' adalah suatu pilihan juga, kan? :)
cheers,
me
Selasa, 01 September 2009
Untitled 1

Tania kecil berada dalam sebuah rumah yang sangat dikenalnya. Rumah bertingkat dua dengan halaman belakang yang sangat luas. Tania berteriak kegirangan diatas ayunan yang terbang tinggi. Ayahnya berada dibelakangnya, berjaga-jaga apabila ia jatuh maka ada tangan yang kokoh dan kuat siap menangkapnya. Kedua kakaknya berlarian mengitari halaman sambil bermain dengan selang air. Mengeluarkan suara yang tak kalah ributnya dengan Tania. Ibunya tengah sibuk berkutat dengan bunga-bunga kesayangannya, tersenyum melihat keramaian yang ditimbulkan oleh anak-anaknya tercinta. Rumah yang hangat, penuh cinta dan kasih sayang.
“Dorong terus, yah,” suara manja Tania menyuruh ayahnya untuk mendorong ayunan lebih kuat lagi.
“Ayah capek, sayang. Ayah istirahat dulu ya,” kata ayahnya sambil duduk dirumput. Tania tidak senang karena keinginannya tidak dipenuhi, memasang muka cemberut.
“Ayah, curang,” katanya seraya turun dari ayunan dan berusaha menarik tangan ayahnya. Kedua kakaknya datang menghambur sambil membawa selang air ditangan mereka.
“Serbu ayah,” teriak mereka sambil menyirami ayahnya dengan selang air. Tania tertawa kegirangan dan ingin ikut memegang selang air itu.
“Tania mau,” katanya seraya mencoba meraih selang dari tangan kakaknya. Tapi kakaknya tidak mau memberikan padanya dan terus menyirami ayahnya sambil tertawa-tawa. Ayahnya hanya diam mengamati tingkah laku anak-anaknya. Tanpa ekspresi.
Disela-sela tawa kedua kakaknya, Tania melihat wajah ayahnya semakin mengabur. Pertama-tama putih memucat. Mungkin karena kedinginan, pikir Tania. Lama-kelamaan wajahnya tembus pandang. Hingga akhirnya menghilang.
“Ayah,” teriak Tania. “Berhenti, berhenti! Ayah hilang!” serunya. Kini seluruh badan ayahnya perlahan-lahan memudar dan terus memudar, hingga akhirnya menyatu dengan udara.
Kakak-kakaknya tetap tertawa-tawa seperti tak terjadi apa-apa. Ibu terus tersenyum sambil tetap sibuk dengan bunga dan tanah yang mengotori tangan halusnya. Tania berlari menuju tempat dimana ayahnya tadi berada. Dan kini ia yang tersiram air.
“Ayah, jangan pergi,” tangisnya sambil merengkuh udara. Ia masih bisa merasakan kehangatan ayahnya disana.
“Jangan pergi,” isaknya disela suara tawa kedua kakaknya.
Ia berharap ini hanya mimpi.
Ia tahu ini hanya mimpi.
Bangun! Bangun! Ini cuma mimpi! Bangun, Tania! Bangun!
Dan akhirnya ia terbangun. Mendapati dirinya berada di atas tempat tidur di sebuah kamar mungil. Kamarnya. Badannya basah. Bukan karena air, tapi keringat yang membanjiri tubuhnya.
“Hah, mimpi sialan!” umpatnya seraya mencampakkan selimut ke lantai. Dan berusaha melupakan wajah ayahnya yang memudar. Sekeras apapun usahanya menghilangkan gambaran itu, tetap ia melekat dibenaknya. Seperti mimpi-mimpi yang senantiasa menemani malam-malamnya.
Ia berusaha untuk menahan titik air yang mengalir dipipinya dengan memejamkan matanya. Namun seperti biasanya, tak pernah berhasil. Tania yang sekarang berumur 22 tahun. Tania yang sekarang masih menangisi kepergian ayahnya.
Jumat, 28 Agustus 2009
Untitled 1
Tania kecil berada dalam sebuah rumah yang sangat dikenalnya. Rumah bertingkat dua dengan halaman belakang yang sangat luas. Tania berteriak kegirangan diatas ayunan yang terbang tinggi. Ayahnya berada dibelakangnya, berjaga-jaga apabila ia jatuh maka ada tangan yang kokoh dan kuat siap menangkapnya. Kedua kakaknya berlarian mengitari halaman sambil bermain dengan selang air. Mengeluarkan suara yang tak kalah ributnya dengan Tania. Ibunya tengah sibuk berkutat dengan bunga-bunga kesayangannya, tersenyum melihat keramaian yang ditimbulkan oleh anak-anaknya tercinta. Rumah yang hangat, penuh cinta dan kasih sayang.
“Dorong terus, yah,” suara manja Tania menyuruh ayahnya untuk mendorong ayunan lebih kuat lagi.
“Ayah capek, sayang. Ayah istirahat dulu ya,” kata ayahnya sambil duduk dirumput. Tania tidak senang karena keinginannya tidak dipenuhi, memasang muka cemberut.
“Ayah, curang,” katanya seraya turun dari ayunan dan berusaha menarik tangan ayahnya. Kedua kakaknya datang menghambur sambil membawa selang air ditangan mereka.
“Serbu ayah,” teriak mereka sambil menyirami ayahnya dengan selang air. Tania tertawa kegirangan dan ingin ikut memegang selang air itu.
“Tania mau,” katanya seraya mencoba meraih selang dari tangan kakaknya. Tapi kakaknya tidak mau memberikan padanya dan terus menyirami ayahnya sambil tertawa-tawa. Ayahnya hanya diam mengamati tingkah laku anak-anaknya. Tanpa ekspresi.
Disela-sela tawa kedua kakaknya, Tania melihat wajah ayahnya semakin mengabur. Pertama-tama putih memucat. Mungkin karena kedinginan, pikir Tania. Lama-kelamaan wajahnya tembus pandang. Hingga akhirnya menghilang.
“Ayah,” teriak Tania. “Berhenti, berhenti! Ayah hilang!” serunya. Kini seluruh badan ayahnya perlahan-lahan memudar dan terus memudar, hingga akhirnya menyatu dengan udara.
Kakak-kakaknya tetap tertawa-tawa seperti tak terjadi apa-apa. Ibu terus tersenyum sambil tetap sibuk dengan bunga dan tanah yang mengotori tangan halusnya. Tania berlari menuju tempat dimana ayahnya tadi berada. Dan kini ia yang tersiram air.
“Ayah, jangan pergi,” tangisnya sambil merengkuh udara. Ia masih bisa merasakan kehangatan ayahnya disana.
“Jangan pergi,” isaknya disela suara tawa kedua kakaknya.
Ia berharap ini hanya mimpi.
Ia tahu ini hanya mimpi.
Bangun! Bangun! Ini cuma mimpi! Bangun, Tania! Bangun!
Dan akhirnya ia terbangun. Mendapati dirinya berada di atas tempat tidur di sebuah kamar mungil. Kamarnya. Badannya basah. Bukan karena air, tapi keringat yang membanjiri tubuhnya.
“Hah, mimpi sialan!” umpatnya seraya mencampakkan selimut ke lantai. Dan berusaha melupakan wajah ayahnya yang memudar. Sekeras apapun usahanya menghilangkan gambaran itu, tetap ia melekat dibenaknya. Seperti mimpi-mimpi yang senantiasa menemani malam-malamnya.
Ia berusaha untuk menahan titik air yang mengalir dipipinya dengan memejamkan matanya. Namun seperti biasanya, tak pernah berhasil. Tania yang sekarang berumur 22 tahun. Tania yang sekarang masih menangisi kepergian ayahnya.
“Bu, Tania pergi dulu ya. Nanti Tania cepat pulang. Ibu jangan lupa minum obatnya, ya,” kata Tania sambil mencium lembut dahi ibunya.
Ibunya hanya mengangguk lemah. “Kak, jangan lupa kasi ibu obatnya trus nanti aku datang siang, kita langsung ke rumah sakit,” lanjutnya pada Rina, perawat yang menjaga ibunya.
“Ya, Mbak,” jawab Rina sambil mendorong kursi roda ibunya, masuk kedalam rumah.
Sementara Tania mengambil tasnya buru-buru, sudah terlambat kuliah. Ia mengambil jurusan Manajemen di Universitas swasta di Medan. Ia tinggal dirumah ini bersama ibunya, perawat dan pembantunya.
Ayahnya meninggal pada waktu ia masih SD. Kecelakaan mobil. Waktu ia duduk di bangku SMU, ibunya menikah lagi . Entah karena cinta atau karena materi. Tak pernah tahu. Namun setelah 3 tahun menikah, tak lama setelah didiagnosis kanker payudara, suami barunya meninggalkannya, untungnya beserta dengan sejumlah materi yang bisa membuat Tania dan ibunya bertahan hingga saat ini. Itupun semakin menipis akibat biaya pengobatan dan tagihan disana-sini.
Kedua kakak Tania, dengan alasan tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, memilih untuk menetap dikota yang sangat jauh dari rumah, sehingga Tania hanya seorang diri merawat dan menjaga ibunya. Ia tak keberatan. Tidak. Hanya muak dengan sikap kedua saudaranya yang seolah melupakan ia dan ibunya. Kakak sulungnya sudah berkeluarga, sukses dan memiliki karir yang sangat gemilang disalah satu bank swasta terkenal di Jakarta.
Sementara kakak keduanya mengambil beasiswa diluar negeri. Mungkin secara finansial mereka selalu mendukung, tapi yang ibunya butuhkan bukanlah materi, melainkan dukungan moril dan kasih sayang. Tapi Tania tidak pernah mengeluh tentang itu. Bahkan baginya, mereka bukan lagi keluarganya. Keluarganya hanya ia dan ibunya.
“Dorong terus, yah,” suara manja Tania menyuruh ayahnya untuk mendorong ayunan lebih kuat lagi.
“Ayah capek, sayang. Ayah istirahat dulu ya,” kata ayahnya sambil duduk dirumput. Tania tidak senang karena keinginannya tidak dipenuhi, memasang muka cemberut.
“Ayah, curang,” katanya seraya turun dari ayunan dan berusaha menarik tangan ayahnya. Kedua kakaknya datang menghambur sambil membawa selang air ditangan mereka.
“Serbu ayah,” teriak mereka sambil menyirami ayahnya dengan selang air. Tania tertawa kegirangan dan ingin ikut memegang selang air itu.
“Tania mau,” katanya seraya mencoba meraih selang dari tangan kakaknya. Tapi kakaknya tidak mau memberikan padanya dan terus menyirami ayahnya sambil tertawa-tawa. Ayahnya hanya diam mengamati tingkah laku anak-anaknya. Tanpa ekspresi.
Disela-sela tawa kedua kakaknya, Tania melihat wajah ayahnya semakin mengabur. Pertama-tama putih memucat. Mungkin karena kedinginan, pikir Tania. Lama-kelamaan wajahnya tembus pandang. Hingga akhirnya menghilang.
“Ayah,” teriak Tania. “Berhenti, berhenti! Ayah hilang!” serunya. Kini seluruh badan ayahnya perlahan-lahan memudar dan terus memudar, hingga akhirnya menyatu dengan udara.
Kakak-kakaknya tetap tertawa-tawa seperti tak terjadi apa-apa. Ibu terus tersenyum sambil tetap sibuk dengan bunga dan tanah yang mengotori tangan halusnya. Tania berlari menuju tempat dimana ayahnya tadi berada. Dan kini ia yang tersiram air.
“Ayah, jangan pergi,” tangisnya sambil merengkuh udara. Ia masih bisa merasakan kehangatan ayahnya disana.
“Jangan pergi,” isaknya disela suara tawa kedua kakaknya.
Ia berharap ini hanya mimpi.
Ia tahu ini hanya mimpi.
Bangun! Bangun! Ini cuma mimpi! Bangun, Tania! Bangun!
Dan akhirnya ia terbangun. Mendapati dirinya berada di atas tempat tidur di sebuah kamar mungil. Kamarnya. Badannya basah. Bukan karena air, tapi keringat yang membanjiri tubuhnya.
“Hah, mimpi sialan!” umpatnya seraya mencampakkan selimut ke lantai. Dan berusaha melupakan wajah ayahnya yang memudar. Sekeras apapun usahanya menghilangkan gambaran itu, tetap ia melekat dibenaknya. Seperti mimpi-mimpi yang senantiasa menemani malam-malamnya.
Ia berusaha untuk menahan titik air yang mengalir dipipinya dengan memejamkan matanya. Namun seperti biasanya, tak pernah berhasil. Tania yang sekarang berumur 22 tahun. Tania yang sekarang masih menangisi kepergian ayahnya.
“Bu, Tania pergi dulu ya. Nanti Tania cepat pulang. Ibu jangan lupa minum obatnya, ya,” kata Tania sambil mencium lembut dahi ibunya.
Ibunya hanya mengangguk lemah. “Kak, jangan lupa kasi ibu obatnya trus nanti aku datang siang, kita langsung ke rumah sakit,” lanjutnya pada Rina, perawat yang menjaga ibunya.
“Ya, Mbak,” jawab Rina sambil mendorong kursi roda ibunya, masuk kedalam rumah.
Sementara Tania mengambil tasnya buru-buru, sudah terlambat kuliah. Ia mengambil jurusan Manajemen di Universitas swasta di Medan. Ia tinggal dirumah ini bersama ibunya, perawat dan pembantunya.
Ayahnya meninggal pada waktu ia masih SD. Kecelakaan mobil. Waktu ia duduk di bangku SMU, ibunya menikah lagi . Entah karena cinta atau karena materi. Tak pernah tahu. Namun setelah 3 tahun menikah, tak lama setelah didiagnosis kanker payudara, suami barunya meninggalkannya, untungnya beserta dengan sejumlah materi yang bisa membuat Tania dan ibunya bertahan hingga saat ini. Itupun semakin menipis akibat biaya pengobatan dan tagihan disana-sini.
Kedua kakak Tania, dengan alasan tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, memilih untuk menetap dikota yang sangat jauh dari rumah, sehingga Tania hanya seorang diri merawat dan menjaga ibunya. Ia tak keberatan. Tidak. Hanya muak dengan sikap kedua saudaranya yang seolah melupakan ia dan ibunya. Kakak sulungnya sudah berkeluarga, sukses dan memiliki karir yang sangat gemilang disalah satu bank swasta terkenal di Jakarta.
Sementara kakak keduanya mengambil beasiswa diluar negeri. Mungkin secara finansial mereka selalu mendukung, tapi yang ibunya butuhkan bukanlah materi, melainkan dukungan moril dan kasih sayang. Tapi Tania tidak pernah mengeluh tentang itu. Bahkan baginya, mereka bukan lagi keluarganya. Keluarganya hanya ia dan ibunya.
Senin, 10 Agustus 2009
Just an Introduction

Suatu waktu di pagi yang kelabu dan suram…
Pernahkah kau merasa jalan hidupmu seakan semakin pendek, dari tempatmu berdiri sekarang kau bisa melihat ujungnya. Kau tidak lagi menempuh jalan yang panjang dan berliku. Kini perlahan tapi pasti, kau hampir tiba ditujuanmu. Meskipun bagimu, kau tak tahu kemana arah jalanmu dan akan berakhir dimana hidupmu ini.
Aku pernah. Bahkan saat ini aku sedang merasakannya.
Kau tahu, hidupku dipastikan akan berhenti dalam waktu yang tak lama lagi. Namun sungguh diluar kuasa dan kehendakku, aku tak tahu harus berhenti dimana. Dan aku tak tahu kapan harus berhenti.
Bisakah kau bayangkan hidupmu sebentar lagi akan menemui tepinya, sementara tak banyak hal yang telah kau lakukan selama ini yang cukup baik untuk ditinggalkan bagi mereka yang kau sayangi dan menyayangimu. Tak banyak, bahkan tak ada bagian dari dirimu yang bisa membuat orang lain berkata: ‘Oh, dia. Ya, aku kenal dia. Aku sungguh bangga bisa mengenalnya’ atau, ‘Dia temanku. Teman yang istimewa’ atau lagi, ‘Aku takkan pernah melupakan dia seumur hidupku’.
Ironis bukan? Betapa hari-hari yang kau lalui adalah kesia-siaan belaka. Ketika kau sudah melihat tanda itu diakhir perjalanan hidupmu, kau baru sadar, segala sesuatu yang kau lakukan selama ini tak berarti. Dan ketika kau terbangun, semua sudah terlambat. Waktu enggan berkompromi denganmu. Bagianmu hampir habis. Dan yang ada dikepalamu hanyalah bagaimana kau akan mengisi sisa hari yang singkat ini. Apa yang seharusnya kau lakukan? Apa yang sebaiknya kaukatakan? Semakin kau berpikir, semakin kau menyesali hidupmu. Dan satu kalimat terpaku mati dibenakmu, aku belum siap. Masih banyak hal-hal didunia ini yang harus aku lakukan. Masih banyak rencana-rencanaku yang belum terselesaikan. Masih banyak, dan aku belum siap.
Aku belum siap.
Aku belum siap.
Aku belum siap.
Namun, tetap akhirnya perhentianku adalah disini. Hampir tiba saatnya bagiku untuk meninggalkan segala hal yang aku sayangi. Melepaskan semua memori yang telah menemani setiap detik hidupku selama ini. Sulit untuk mengucapkan selamat tinggal, kau tahu, kan?
Dan semua ini bermula dibulan Januari yang indah dan berwarna.
Januari yang merupakan awal hidup baru bagi orang lain, tetapi akhir bagi duniaku. Akhir bagi hidupku.
Akhir bagi segalanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
