Jumat, 28 Agustus 2009

Untitled 1

Tania kecil berada dalam sebuah rumah yang sangat dikenalnya. Rumah bertingkat dua dengan halaman belakang yang sangat luas. Tania berteriak kegirangan diatas ayunan yang terbang tinggi. Ayahnya berada dibelakangnya, berjaga-jaga apabila ia jatuh maka ada tangan yang kokoh dan kuat siap menangkapnya. Kedua kakaknya berlarian mengitari halaman sambil bermain dengan selang air. Mengeluarkan suara yang tak kalah ributnya dengan Tania. Ibunya tengah sibuk berkutat dengan bunga-bunga kesayangannya, tersenyum melihat keramaian yang ditimbulkan oleh anak-anaknya tercinta. Rumah yang hangat, penuh cinta dan kasih sayang.

“Dorong terus, yah,” suara manja Tania menyuruh ayahnya untuk mendorong ayunan lebih kuat lagi.
“Ayah capek, sayang. Ayah istirahat dulu ya,” kata ayahnya sambil duduk dirumput. Tania tidak senang karena keinginannya tidak dipenuhi, memasang muka cemberut.
“Ayah, curang,” katanya seraya turun dari ayunan dan berusaha menarik tangan ayahnya. Kedua kakaknya datang menghambur sambil membawa selang air ditangan mereka.
“Serbu ayah,” teriak mereka sambil menyirami ayahnya dengan selang air. Tania tertawa kegirangan dan ingin ikut memegang selang air itu.
“Tania mau,” katanya seraya mencoba meraih selang dari tangan kakaknya. Tapi kakaknya tidak mau memberikan padanya dan terus menyirami ayahnya sambil tertawa-tawa. Ayahnya hanya diam mengamati tingkah laku anak-anaknya. Tanpa ekspresi.

Disela-sela tawa kedua kakaknya, Tania melihat wajah ayahnya semakin mengabur. Pertama-tama putih memucat. Mungkin karena kedinginan, pikir Tania. Lama-kelamaan wajahnya tembus pandang. Hingga akhirnya menghilang.
“Ayah,” teriak Tania. “Berhenti, berhenti! Ayah hilang!” serunya. Kini seluruh badan ayahnya perlahan-lahan memudar dan terus memudar, hingga akhirnya menyatu dengan udara.

Kakak-kakaknya tetap tertawa-tawa seperti tak terjadi apa-apa. Ibu terus tersenyum sambil tetap sibuk dengan bunga dan tanah yang mengotori tangan halusnya. Tania berlari menuju tempat dimana ayahnya tadi berada. Dan kini ia yang tersiram air.
“Ayah, jangan pergi,” tangisnya sambil merengkuh udara. Ia masih bisa merasakan kehangatan ayahnya disana.
“Jangan pergi,” isaknya disela suara tawa kedua kakaknya.
Ia berharap ini hanya mimpi.
Ia tahu ini hanya mimpi.
Bangun! Bangun! Ini cuma mimpi! Bangun, Tania! Bangun!

Dan akhirnya ia terbangun. Mendapati dirinya berada di atas tempat tidur di sebuah kamar mungil. Kamarnya. Badannya basah. Bukan karena air, tapi keringat yang membanjiri tubuhnya.

“Hah, mimpi sialan!” umpatnya seraya mencampakkan selimut ke lantai. Dan berusaha melupakan wajah ayahnya yang memudar. Sekeras apapun usahanya menghilangkan gambaran itu, tetap ia melekat dibenaknya. Seperti mimpi-mimpi yang senantiasa menemani malam-malamnya.
Ia berusaha untuk menahan titik air yang mengalir dipipinya dengan memejamkan matanya. Namun seperti biasanya, tak pernah berhasil. Tania yang sekarang berumur 22 tahun. Tania yang sekarang masih menangisi kepergian ayahnya.


“Bu, Tania pergi dulu ya. Nanti Tania cepat pulang. Ibu jangan lupa minum obatnya, ya,” kata Tania sambil mencium lembut dahi ibunya.
Ibunya hanya mengangguk lemah. “Kak, jangan lupa kasi ibu obatnya trus nanti aku datang siang, kita langsung ke rumah sakit,” lanjutnya pada Rina, perawat yang menjaga ibunya.

“Ya, Mbak,” jawab Rina sambil mendorong kursi roda ibunya, masuk kedalam rumah.
Sementara Tania mengambil tasnya buru-buru, sudah terlambat kuliah. Ia mengambil jurusan Manajemen di Universitas swasta di Medan. Ia tinggal dirumah ini bersama ibunya, perawat dan pembantunya.

Ayahnya meninggal pada waktu ia masih SD. Kecelakaan mobil. Waktu ia duduk di bangku SMU, ibunya menikah lagi . Entah karena cinta atau karena materi. Tak pernah tahu. Namun setelah 3 tahun menikah, tak lama setelah didiagnosis kanker payudara, suami barunya meninggalkannya, untungnya beserta dengan sejumlah materi yang bisa membuat Tania dan ibunya bertahan hingga saat ini. Itupun semakin menipis akibat biaya pengobatan dan tagihan disana-sini.

Kedua kakak Tania, dengan alasan tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, memilih untuk menetap dikota yang sangat jauh dari rumah, sehingga Tania hanya seorang diri merawat dan menjaga ibunya. Ia tak keberatan. Tidak. Hanya muak dengan sikap kedua saudaranya yang seolah melupakan ia dan ibunya. Kakak sulungnya sudah berkeluarga, sukses dan memiliki karir yang sangat gemilang disalah satu bank swasta terkenal di Jakarta.

Sementara kakak keduanya mengambil beasiswa diluar negeri. Mungkin secara finansial mereka selalu mendukung, tapi yang ibunya butuhkan bukanlah materi, melainkan dukungan moril dan kasih sayang. Tapi Tania tidak pernah mengeluh tentang itu. Bahkan baginya, mereka bukan lagi keluarganya. Keluarganya hanya ia dan ibunya.

Tidak ada komentar: