Hari ini sama seperti hari lainnya. Langit tetap biru, burung masih berkicau riang diranting pohon kapuk tua yang ada didekat bangku taman itu. Bangku taman kecil itu memiliki ukiran daun-daunan disandaran punggungnya. Letaknya berhadapan dengan sebuah danau buatan. Airnya tenang, hanya sesekali beriak perlahan ditiup angin semilir.
Bangku taman itu, justru ialah yang membuat perbedaan pagi ini.
Hari-hari sebelumnya kehadiran mereka saling menggenapi, duduk merapat, berbagi cerita lucu, dan saling tertawa. Namun hari ini, yang ada hanya sang wanita. Ia duduk sendirian, dibangku taman itu. Mendekap tubuhnya erat-erat. Matanya menerawang jauh keseberang danau. Tiba-tiba setitik air mata mengalir dari ujung mata hingga turun ke dagunya. Jatuh perlahan diatas lengannya yang sedang mendekap tubuhnya.
Setitik, dan setitik lagi. Hingga akhirnya tubuhnya terguncang pelan oleh gelombang kepedihan yang meluap-luap. Kedua tangannya kini menutup wajahnya. Berusaha meredam air mata dan isak tangis yang menguasai.
Sepertinya usahanya itu sia-sia. Karena dia terus menangis, dan tetap tinggal disana, dibangku taman itu, entah untuk berapa lama.
Pria yang kini menghilang itu, biasa memanggilnya, Maya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar