Selasa, 17 Maret 2009

We're living in a fair world

Bapak tua itu terpaku disalah satu kursi di ruangan ber AC yang tentu sangat asing buatnya. Bajunya lusuh dan kotor oleh debu dan oli. Wajahnya kuyu, lesu dan bercampur takut. Takut dimarahi, takut diberi surat peringatan atau bahkan takut di-PHK alias Pemutusan Hubungan Kerja. Terbayang dibenaknya istri dan anak-anaknya (yang aku yakin lebih dari 2) yang akan menangis meraung-raung apabila ketakutannya itu benar-benar terjadi. Bagaimana aku bisa memberi makan keluargaku? Hutang-hutangku masih menumpuk? Dan begitulah sembari menunggu orang yang bersangkutan datang, dia pun berdiam dalam cemas. Seribu cemas. Tentang mengisi perutnya dan keluarganya. Sesederhana itu.

Dia seorang supervisor. Berjalan mondar-mandir. Marah-marah. Menunjuk-nunjuk. Pakaiannya bersih dan tidak setitik kerutan pun terlihat dibajunya. Tampak didepannya anak buahnya sedang berusaha menjelaskan duduk persoalan yang baru saja terjadi di tempat kerja mereka. Dari raut mukanya tidak terlihat kecemasan, tapi kekalutan, gusar. Tidak sama seperti yang dirasakan oleh bapak tua tadi. Kecemasannya meliputi kekesalannya karena ketololan anak buahnya yang secara TIDAK SENGAJA melakukan sesuatu yang bisa merugikan perusahaan secara
tidak langsung, tapi bisa berpengaruh pada karirnya. Dia takut nama baiknya sebagai seorang pimpinan tercoreng karena kesalahan manusiawi yang dilakuakanoleh anak buahnya. Dia gusar karena cita-citanya ingin membeli mobil BMW terbaru akan buyar karena promosinya terancam karena kejadian ini. Itu sedikit dari kecemasannya. Banyak dan rumit.

Ada orang yang bersusah payah membanting tulang memakan debu jalanan, hanya untuk memikirkan apa yang akan dimakannya hari ini. Sementara ada sebagian orang yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan tentang hal sepele seperti makan. Karena bagi mereka deposito 500 juta belum cukup dan harus digandakan lagi, lagi dan lagi.

What a 'fair' world!!!!