
Bagaimana kita bisa memilih antara Tuhan dan orang yang kita cintai?
Kenapa aku ulangi lagi judul tersebut diatas? Karena ternyata pertanyaan ini sangat mudah sekaligus sangat susah untuk dipahami.
Sebagian orang akan menjawab, "Ya Tuhan dong.. dosa loh, kalo lebih cinta manusia daripada Tuhan.."
Lebih sedikit orang akan mengerutkan kening, sambil memiringkan kepala, berpikir sejenak, lalu dengan pelan menjawab, "Ga salah tuh..? Keyakinan dan perasaan mana bisa dipisahin.. Gila kali ya.."
Itu hasil survei dari beberapa teman yang aku coba ajukan pertanyaan gampang-gampang-susah atau susah-susah-gampang ini.
Hmm, Dia atau dia.
Hmm, dia atau Dia.
Kalau menurut aku sendiri, aku lebih setuju pada mereka yang memilih untuk 'tidak memilih',nya dengan kata lain mereka yang tidak bisa / tidak mau memisahkan antara Tuhan dan orang yang dikasihi.
Aku setuju bahwa keyakinan dan masalah perasaan adalah dua hal yang berbeda tapi berjalan dalam rel yang sama. Ketika kau memiliki perasaan dalam tak terbendung yang membuatmu sadar bahwa kau tak bisa hidup tanpa kehadiran dia dalam hidupmu, bahwa kau mampu melakukan hal tergila apapun demi hanya untuk menyenangkan dia. Itu disebut mencintai. Disisi lain kau juga memiliki satu kerinduan dalam hatimu untuk memuja sesuatu yang jauh lebih besar dari seluruh alam semesta ini. Dan kau tahu, sadar serta meyakininya.
Mereka adalah dua prinsip berbeda tapi berputar dalam satu kali rotasi. Kita tidak bisa memisahkan antara yang satu dengan yang lain. Perasaan dan keyakinan. Cinta dan Tuhan.
Aku ambil contoh lagi seperti ini.
Tuhan menciptakan manusia. Lalu Ia cipta pula cinta.
Tuhan, manusia, cinta.
Manusia berada pada deretan tengah. Jadi manusia diciptakan untuk Tuhan dan untuk cinta. Tidak dibatasi, tidak dihalangi dan tidak dibebani.
Hanya bagaimana cara menjalani hubungan antara kita dan Tuhan atau kita dan cinta, hal itulah yang terkadang menjadi alasan bagi kita kita untuk memberi ruang dan jarak antara kedua hal itu.
Bagiku, aku tak bisa menentukan harus memilih mana antara keyakinan dan perasaanku. Karena aku tahu itu semua bersumber kepada satu Kuasa. Aku tak bisa membayangkan harus menjalani hidup dengan dia tanpa DIA, atau hidup dengan DIA tanpa dia.
Bukan pilihan yang harus diambil, bukan juga pertanyaan rumit yang harus dipahami. Hanya bagian dalam kehidupanku yang harus aku terima dan lakoni dengan apa adanya, tanpa embel-embel 'pilihan'. Lagipula memilih untuk 'tak memilih' adalah suatu pilihan juga, kan? :)
cheers,
me

Tidak ada komentar:
Posting Komentar