Senin, 28 September 2009

Untitled 2

“Tania!” Andre memanggil Tania dari bawah tangga. Ia terpaksa berhenti menunggu lelaki yang adalah pacarnya itu menghampirinya. Aku harus senyum, senyum, pikirnya seraya menarik ujung bibirnya keatas, sehingga terkesan sangat terpaksa. Sudah tiga hari ia tak membalas telpon Andre. Ia merasa sedikit bosan dengan hubungan mereka. Andre baik, bahkan terlalu baik. Justru kebaikannya itulah yang membuat Tania merasa bersalah. Andre terlalu sempurna buatnya.

“Ta, hp kamu kok ga bisa dihubungin beberapa hari ini, kamu kemana aja, ga ngasi kabar ke aku?” semburnya setelah berdiri didepan Tania.
Akh, alasan apa lagi yang harus kukarang, pikir Tania.
“Oh, itu ibuku agak kurang sehat. Aku sengaja ga ke kampus nemanin ibu dirumah,” jawab Tania singkat sambil melanjutkan jalan. Andre mengikutinya.
“Dan hp kamu? Kenapa kamu ga pernah telpon aku,” tanya Andre tak puas dengan jawaban Tania. Tania memutar bola matanya. Ga bakal berhenti sebelum dia puas, batinnya.
“Ndre, aku ga mau bikin kamu kuatir, ibu cuma perlu check up aja kok. Ntar siang aku mau bawa ibu ke rumah sakit,” tukas Tania ingin segera menyudahi percakapan ini.
“Ya udah, nanti aku antarin ya, Ta,” kata Andre lagi.
“Ndre, aku..”
“Dan aku ga pengen denger kata nggak usah,” lanjutnya sambil memegang lengan Tania.
Inilah yang paling menyebalkan darinya. Selalu memaksa, keluh Tania. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Tania mengangguk sambil berlalu menuju ruang kuliahnya.
“Ntar aku keluar jam 11. Aku tunggu di tempat parkir, Ta,” Andre setengah berteriak pada Tania.

Tania menghilang dalam lokal yang hampir kosong. Ia mengambil tempat di dua barisan paling belakang. Sendiri. Tak punya banyak teman dikampus ini. Apalagi setelah sibuk merawat ibunya. Hubungan dengan teman-temannya dulu semakin renggang. Apalagi dengan Lana, orang yang dulu disebutnya sahabat. Tania jadi tahu, tak ada teman yang sejati didunia ini. Apalagi sahabat.
Entah kenapa Andre masih betah berlama-lama dengannya. Tania jarang punya waktu berduaan dengan Andre. Karena waktunya banyak dihabiskan dirumah atau dirumah sakit. Andre menjadi nomor kesekian dalam hidupnya. Hanya masalah waktu saja yang akan menyadarkan Andre untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan ia berharap Andre segera sadar. Tania tak butuh laki-laki saat ini. Tania hanya butuh ibunya.

Satu-satu bangku kosong terisi. Hingga akhirnya dosen masuk ke lokal dan memulai kuliahnya tentang sesuatu yang kedengarannya seperti manajemen dan tetek bengek-nya. Hah, aku benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan dosen berkepala botak ini. Mungkin usianya akhir 40-an. Pikir Tania malah memusatkan perhatian pada dosennya dan bukan kuliahnya. Bajunya ga cocok dengan celananya. Kacamatanya kegedean. Ukh, baru 10 menit aku udah bosan banget.. pikirnya lagi.
Getar dari hp-nya mengagetkannya. Sms. Andre. Apalagi nih? Batinnya.
“Ta, jangan ngelamun, dengerin dosennya tuh, hehe. Love u,” bunyi sms dari Andre. Tania tersenyum. Andre yang baik dan manis. Entah kenapa aku tak bisa mencintainya. Tania memejamkan mata dan mengingat pertemuan pertamanya dengan Andre.


Nih, hapus ingus kamu tuh, jelek banget keliatannya.” Sebuah tangan mengulurkan selembar tisu. Tania mendongak dan melihat wajah yang tak asing lagi. Andre. Andre sang bintang basket. Ya, dia Andre, bintang di klub basket kampusnya.
Tania cepat-cepat mengambil tisu dari tangan Andre dan menghapus ingus dan airmata dari wajahnya. Tania sedang berada di atap gedung kampusnya. Sejak mendengar kabar tentang ibunya yang sakit, dia sering melarikan diri dan merenung ditempat ini. Tak punya teman yang punya waktu untuk mendengarnya, Tak punya teman yang peduli padanya. Hanya ada sahabat yang menggoreskan luka yang tak akan pernah pulih.
Tania belajar bercerita pada angin. Meski tak bisa bicara, paling tidak ia mendengar tangisan Tania dan menyampaikannya pada sosok ayahnya.
Andre duduk tak jauh disamping Tania. Tania hanya diam sambil berusaha meredam airmatanya yang tak berhenti mengalir. Andre mengenakan kacamata yang sepertinya janggal dipakai oleh seorang bintang basket. Dijarinya terselip sebatang rokok yang tinggal setengah. Mereka sama-sama diam. Hanya mendengar desau angin.
Hingga akhirnya, “Kalo boleh tau kenapa kamu nangis,” suara berat itu mengagetkan Tania. Tania masih berusaha menahan isak tangisnya, berpikir haruskah dijawab pertanyaan laki-laki ini? Atau dia pergi saja sekarang? Namun ada sesuatu yang menahan langkah kakinya pergi saat itu.
Dan ia malah menjawab pertanyaan Andre dengan balik bertanya, “Kamu, ngapain kesini?”
Andre mematikan rokok yang kini sudah habis dihisapnya. Lalu menoleh pada Tania, “Lho, emang ga boleh ya kesini, apa tempat ini punya pribadi?” tanyanya lagi sambil tersenyum. Manis. Kacamatanya dilepasnya. Semakin menonjolkan wajahnya yang jauh dari buruk.
Tania berdiri mengibaskan celana jeansnya, “Ga ada yang ngelarang kok. Aku cuma heran aja, ngapain bintang besar kaya kamu sendirian datang ketempat yang jauh dari fans-fans kamu,” sahutku sambil bersandar pada pagar pembatas.
Dia ikut berdiri. “Jadi kamu kenal sama aku ya?” katanya sambil terus memasang senyum manisnya. Hah, bagus Tania, sekarang kau uda buat dia makin besar kepala, Tania menyesal kenapa dia harus bicara pada makhluk manis ini. Dan sekarang tambah lagi kau bilang dia manis? Ukh, emang dia manis kok. Tapi jangan terpancing, Tania, kata hatinya.
“Kenal sih ga, cuma siapa sih yang ga tau bintang basket dikampus ini?”, jawabnya berharap lelaki ini segera berlalu dari tempat ini.
“Mungkin, seorang cewek yang lagi nangis sendirian di atap gedung kampus?” katanya hampir seperti rayuan.
Sadar dirinya ketahuan nangis, Tania merasa malu, “Emang nangis ga boleh ya, itu kan hak asasi manusia,” tukas Tania sambil membuang tisu pemberian Andre.
“Ga ada yang ngelarang kok, kamu nangis aja lagi, aku masi punya tisu nih,” katanya mulai menyebalkan.
Tania memandangnya dan berkata, “Bukan urusanmu, kan.”
“Hei, aku ga bermaksud..” Tania menyambar tasnya dan melangkah menuju pintu tangga.
“Hei, bentar, nama kamu siapa?” Teriakannya tak terdengar lagi oleh Tania.



“Saya harap anda semua mempelajari bab 3-4 untuk pokok bahasan minggu depan. Dan yang saya maksud adalah bener-benar mempelajarinya,” suara melengking dosen itu mengakhiri kuliah pagi ini.
Tania yakin tak ada yang mendengar teriakan dosen itu. Ia merasa lega, langsung memasukkan diktat yang tak pernah dibukanya sedari tadi. Dia sedang melangkah keluar ruang kuliah, ketika tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
“Ta, kok udah lama ga keliatan?” Suara sahabatnya, lebih tepatnya mantan sahabatnya tak asing lagi ditelinganya. Tania berbalik dan berusaha untuk tersenyum.
“Oh, kamu aja kali yang sibuk ga ngeliat aku. Aku dikampus terus kok,” jawab Tania tak acuh. Lana balas tersenyum.
“Kamu dikampus terus tapi ga pernah ngumpul paper-paper kamu, Ta?” lanjut Lana sambil mengikuti langkah Tania. Sok peduli amat sih ni orang, pikir Tania kesal.
“Aku bakal ngumpulin itu semua nanti,” sahut Tania seraya mempercepat langkahnya.
“Tapi kita udah mau semesteran, Ta. Gimana kamu mau nyelesain paper kamu yang menggunung sementara..”
Dia berhenti. Lalu, “Eh, Ibu kamu apa kabar, Ta?” tanyanya tiba-tiba. Tania berhenti dan menatap Lana.
“Heh, masi ingat rupanya kamu sama ibu aku. Kenapa tiba-tiba nanya? Itu bukan urusan kamu kan,” Tania mulai gusar. Apa pedulinya? Buat apa dia tanya ibu sekarang? Sialan! Tania mengumpat dalam hati. Lana terdiam sejenak. Sementara Tania mempercepat langkahnya.
“Ta, kamu masi marah sama aku ya. Please, aku harus gimana, Ta supaya kamu mau maafin aku?” Lana berusaha mengejar Tania.
“Lan, kenapa kamu harus minta maaf? Emang kamu salah apaan sih, Lan,” Tania tak berusaha untuk tak bersikap sarkastik.
“Ta, please, jangan kaya gini sama aku,” Lana berusaha meraih tangan Tania, yang langsung dikibaskan oleh Tania.
“Don’t you even dare, Lan. Buat aku kamu udah ga ada,” bentak Tania seraya berlalu meninggalkan Lana yang tercekat.

Tidak ada komentar: